Read Max Havelaar, of de Koffieveilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij by Multatuli Eduard Douwes Dekker A.L. Sötemann Online

max-havelaar-of-de-koffieveilingen-der-nederlandsche-handel-maatschappij

'Want aan U draag ik mijn boek op, Willem de Derde, Koning ... KEIZER van 't prachtige rijk van INSULINDE dat zich daar slingert om de evenaar, als een gordel van smaragd ...Aan U durf ik met vertrouwen vragen of 't Uw keizerlijke wil is: ... dat daarginds Uw meer dan dertig miljoen onderdanen worden MISHANDELD EN UITGEZOGEN IN UW NAAM?'Met deze bewogen oproep eindigt Mult'Want aan U draag ik mijn boek op, Willem de Derde, Koning ... KEIZER van 't prachtige rijk van INSULINDE dat zich daar slingert om de evenaar, als een gordel van smaragd ...Aan U durf ik met vertrouwen vragen of 't Uw keizerlijke wil is: ... dat daarginds Uw meer dan dertig miljoen onderdanen worden MISHANDELD EN UITGEZOGEN IN UW NAAM?'Met deze bewogen oproep eindigt Multatuli zijn wereldberoemd geworden Max Havelaar. Hoewel het meer dan honderd jaar geleden op een zolderkamertje van een Brussels hotel geschreven werd, is het nog steeds een zeer toegankelijk en meeslepend boek.Max Havelaar is één groot, vurig protest tegen de onderdrukking van de inlandse bevolking in het toenmalige Nederlands-Indië, maar ook een ingenieus gecomponeerde autobiografie: de ervaringen van Eduard Douwes Dekker als assistent-resident te Lebak en zijn mislukte poging om tegen het onrecht ten strijde te trekken.Multatuli's stijl is virtuoos en ongelooflijk gevarieerd, nu eens nuchter of ironisch, dan weer gevoelig of gedreven.- De portrettering van Batavus Droogstoppel, makelaar in koffie, Lauriergracht no. 37.- De indringende toespraak tot de hoofden van Lebak.- Het ontroerende verhaal van Saïdjah en Adinda.Het zijn stuk voor stuk onvergetelijke juweeltjes van onze letterkunde....

Title : Max Havelaar, of de Koffieveilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij
Author :
Rating :
ISBN : 9789022506240
Format Type : Hardcover
Number of Pages : 290 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Max Havelaar, of de Koffieveilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij Reviews

  • nanto
    2018-11-30 04:34

    Ini buku bagus yang terlebih dulu saya nonton filmnya. Termasuk salah satu buku yang kemudian memunculkan kritik pedas terhadap kolonialisme di Hindia Belanda (lihat buku Robert Nieuwenhuys (ed.) “Bianglala Sastra” yang di-Indonesia-kan oleh Dick Hartoko, atau judul Inggrisnya Mirror of the Indies). Pengarangnya menggunakan nama pena Multatuli (He who has suffered much) atau nama aslinya Eduard Douwes Dekker. Masih ada hubungan darah dengan pahlawan nasional D. Setiabudi, bahkan kerap disalahsangkai sebagai orang yang sama.Saya punya buku yang warna biru dengan harga, Rp 2.000,- pada tahun 2001 ato 2002 di Gramedia Kebon Nanas Tangerang. Harganya itu bikin saya senyum sampai sekarang, karena tidak berapa lama setelah saya beli dikeluarkan edisi baru dengan harga Rp 35.000,-. Bayangkan kenaikannya...lebih dari 1000%.Isi bukunya sendiri dengan pengantar dari HB Jasin cukup membantu memahami suasana kolonial pada saat itu, bahkan pada praktek kastanisasi yang berlangsung pada orang kulit putih. Sesama orang kulit putih yang terbilang lama tinggal di Hindia Belanda dan secara ekonomi kurang beruntung maka kasta sosialnya akan turun. Hal ini karena menurut adab bahasa mereka akan lebih rendah dibandingkan kaum totok yang tutur katanya masih lebih kental nuansa Belanda Eropa sana. Di dalam buku ini terselip puisi dari kisah Saijah dan Adinda yang merupakan bagian dari cerita Max Havelaar. Puisinya sendiri menggambarkan kegetiran kisah dua anak muda dari Lebak. Lain waktu saya kutipkan di sini. Hal lain yang menarik dari buku ini adalah, buku ini menggunakan tiga penutur. Max Havelaar sebagai seorang yang jadi "gembel" setelah idealismenya "kalah" atas politik kolonial yang tinggal di flat murah di amsterdam berbekal naskah tentang kopi yang kemudian bertemu; Saudagar Kopi yang nafas hidupnya adalah sinisme dan rasionalitas pragmatis najis melkidis (wualah opo meneh ki?) ala kaum pedagang, dan Asisten Saudagar Kopi yang berbangsa Jerman yang mewakili idealisme naif kaum muda. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda dan menggambarkan suasana dan cerita yang berbeda. Salah satu bagian yang saya ingat adalah sinisme Saudagar Kopi terhadap bahasa latin, “Kenapa untuk mengungkapkan kebenaran harus menggunakan bahasa asing!!?!?!?!?!” Saya tertawa geli dengan keluhan itu mengingat kultur belajar waktu itu di universitas di Eropa mensyaratkan kemampuan bahasa latin bagi mahasiswanya. Si saudagar nampaknya ada masalah dengan bahasa latin...Buku ini juga mengundang resensi dari Pramoedya Ananta Toer pada NY Times edisi Milenium tanggal 18 April 1999. Alamat url yang bisa dilacak di situs NY Times atau di sini. Artikel Pram yang mengulas buku ini diberi judul, "The Book that Killed Colonialism". Tentang Kolonialisme Eropa di dunia dan Indonesia, Pram menulis, "...wasn't the world colonized by Europe because of Indonesia's Spice Islands? One could say that it was Indonesia's destiny to initiate the decolonization process.” Sedangkan mengenai tulisan di NY Times itu sendiri Pram menuliskan sebaris kalimat untuk Multatuli, “To Multatuli – Eduard Douwes Dekker whose work sparked this process, this world owes a great debt.”Saya sendiri cuma ingat satu andaian yang entah saya baca atau terinspirasi dari mana, "kiranya Eduard Douwes Dekker (Multatuli) datang kembali ke Lebak saat ini, mungkin dia sempat berpikir dan berujar, 'kiranya roda waktu tidak berputar di tempat ini!'"

  • Pvw
    2018-12-10 00:38

    This book is like an onion. It is based on the collected writings of a certain Max Havelaar, a Dutch assistant-governor of the former colony of Java. His writings, originally in German, are translated by the young student Stern, who resides as a guest in Amsterdam, in the house of the selfish coffe tradesman Droogstoppel. It is this character, Droogstoppel, that supposedly tells the reader the different stories.I have no idea why Multatuli chose this multi-layered technique. It does however allow him to write an extremely strong ending, where the author suddenly emerges from the complexity of the interweaving versions and boastfully proclaims all his characters to be nothing but fictions, created by him. Then he tells them to shut up while he, Multatuli, takes up the pen and addresses the Dutch people and the king directly, to put an end to the misery and the abuse of the native Javan population. One could say he has his Prospero moment.Max Havelaar's story is almost literally based on the real experiences by Eduard Douwes Dekker, who was an assistant-governor who protested against the abuses and was as a result kicked out of his job. With this book he gets back at the people who are responsible for the injustice. And it worked; after the publication public opinion was appalled, measures were taken and when Holland lost the Indonesion colonies during the World Wars, it remained a sensitive point up to this day that they never really got the chance to set right the wrongs that were comitted.To be honest, most parts of the book are utterly unreadable because they are composed in the hyper formal tone that nineteenth century clerks used when they wrote each other, on offical matters. The weird thing is that Multatuli/Dekker can actually write very well when he wants to. The ending, as mentioned, is retorically strong and the (sad) love story of the young natives Saidja and Adinda is lively and very moving.The Dutch sometimes nominate Max Havelaar as the best book written in their language. That certainly isn't true and I wouldn't recommend anyone to read it for fun! However, it may be one of the most important books ever written, because it actually changed things for the better. I believe Marx somewhere says that "philosophers have interpreted the world, but that the important thing is to change it". That, at least, is something that Max Havelaar has done.

  • Steve
    2018-12-09 01:12

    [This book has been translated into many, many languages, including English.]In the words of J.J. Oversteegen, found in the Afterword of the Dutch edition I read, Max Havelaar (1860 - the uncensored version appeared in 1875) is "de grootste roman, die ooit in Nederland geschreven is" (the greatest novel ever written in the Netherlands). As the Afterword is dated 1983 and not 1883, such an assertion is bound to get my attention(*) since I have a high opinion of the work of Nescio and Harry Mulisch and also usually enjoy reading Cees Nooteboom's books. (I review a book of Nescio's here:https://www.goodreads.com/review/show... .)Multatuli ("he who has borne much") is the pseudonym of Eduard Douwes Dekker (1820-1887), who for fifteen years worked in Indonesia for the Dutch government until a final conflict of conscience led to his separation from the service. He put those years of experience to excellent use here, but this novel is not just another addition to the literature of the reluctant colonialist.In the first four chapters of Max Havelaar Douwes Dekker lets the detestable Batavus Droogstoppel (Drystubble), a coffee broker who considers himself to be the salt of the earth and who has smoothly rationalized everything from his cowardice to his parsimony, skewer himself with his own words while setting up the backstory which accounts for the complicated narrative structure of the novel. For the chapters narrated by Mijnheer Droogstoppel are interrupted by chapters told by another narrator, who is supposed to be the result of a collaboration of Droogstoppel's young German apprentice and a down-on-his-luck schoolfriend/author. This narrator moves the reader from Amsterdam to Indonesia and commences with a detailed description of the political organization of the Dutch East Indies, including a thorough accounting of the situation and duties of an Assistant-Resident. Max Havelaar, the new Assistant-Resident of Lebak (coincidentally the position held by Douwes Dekker(**)), is introduced, along with other characters in Indonesia. To give you an idea of the wryness of his prose, here is a portion of his description of the Resident:...he still displayed a calmness, a slowness, and a cautiousness, which would make many a Saurian envious, and which in the eyes of a large number of people are the hallmarks of gentility, of composure, and of wisdom. He was, like most Europeans in India, very pale, which, however, in those regions is in no way considered as evidence of unsatisfactory health, and he had delicate features which bore testimony to some intellectual training. Only there was something cold in his glance, something that reminded one of a table of logarithms, and though in general his appearance was in no way unpleasant or repellent, one could not refrain from the suspicion that his rather large thin nose felt bored in that face where so little happened. Ouch!This narrator freely digresses around the mulberry bush and through the woods, including William the Conqueror (!), and if there is a common thread in all of this plenitude it is the excoriation of Dutch officialdom and the Dutch bourgeoisie. But it is done charmingly, with humor, not with a sneer. Amusing apostrophes to the Reader and an Indonesian love story also break up the seriousness of the proceedings.For, with occasional interjections from the abominable Droogstoppel,(***) we watch Havelaar's efforts on behalf of the Indonesian people subverted by government officials and profiteers, this despite the official government policy that the Assistant-Residents are there to protect the people against any and all abuse. And then (one of) the purpose(s) of the curious structure of the narrative comes into play. The two antithetical views of Havelaar are both rejected as partial, and, at the end, Douwes Dekker drops all the masks and directly appeals to the King of the Netherlands to take heed and do something about it. Although the writer of the Afterword of this edition distanced himself from any judgment concerning the significance of Max Havelaar for the subsequent development of the situation of Indonesia, no less a person than the excellent Indonesian novelist Pramoedya Ananta Toer has written that Max Havelaar is "the book that killed colonialism," at least in Indonesia. Nonetheless, I hasten to reiterate that this book is anything but an artless and humorless political tract. Douwes Dekker has taken his struggles on behalf of the Javanese and his resentments against the comfortably hypocritical and/or opportunistic among his countrymen at home and abroad and has formed a moving, funny, insightful and carefully constructed novel written in a straightforward but pungent language. That it had an impact well beyond literary circles is even more to his credit.(*) Apparently, the Dutch Maatschappij der Nederlandse Letterkunde (Society of Dutch Literature) proclaimed Multatuli the most important Dutch writer of all time in 2002.(**) Actually, there are many other coincidences identifying Havelaar directly with Douwes Dekker. In light of the fact that Havelaar is portrayed as well nigh perfect, whose "failings" are generosity and a certain absentmindedness, a reader in our cynical age may well be inclined to wince, though it is possible to attribute this larger than life portrait to the romantic enthusiasm of the young German apprentice.(***) The use of Droogstoppel is rhetorically masterful, for repulsive as he is, he is not completely repugnant. It is possible for people to see some aspects of themselves in the character. But Droogstoppel is vehemently critical of Havelaar. And he is a complete philistine. So, along with the comic relief Droogstoppel provides, his presence could assure that a certain kind of reader - a reader who might be politically disenchanted with Havelaar but have cultural pretensions - would be more willing to sympathize with Havelaar than otherwise. Rating http://leopard.booklikes.com/post/915...

  • Loranne Davelaar
    2018-11-15 04:34

    Dit was bij vlagen dodelijk saai (wie boeit een te gedetailleerde analyse van het regentensysteem nou), bij vlagen geweldig (Saïdjah en Adinda snik), bij vlagen hilarisch (ik hoop dat Droogstoppel inmiddels inderdaad in zijn koffi is gestikt).

  • Helvry Sinaga
    2018-11-11 04:16

    Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.(Lord Acton, Letter to Bishop Mandell Creighton, 1887)Mungkin penyakit yang paling berbahaya tidak akan ditemukan di laboratorium, tetapi dalam semesta kehidupan, dan penyakit itu bernama korupsi. Penyakit tersebut telah lama ada, dan dengan sukses membiakkan dirinya dari generasi ke generasi. Eduard Douwes Dekker yang dikenal dengan nama pena Multatuli, menulis novel ini dengan protagonis Max Havelaar. Max Havelaar adalah seorang asisten residen di Lebak (sekarang masuk Provinsi Banten). Havelaar menggantikan asisten sebelumnya yang tewas terbunuh, Slottering. Sebelumnya, Havelaar bertugas sebagai asisten residen di Natal (sekarang masuk Provinsi Sumatra Utara). Dan pengalaman tersebut diceritakan kembali oleh Multatuli melalui karya fiksi ini.Latar Belakang Apa yang menjadi permasalahan pada saat itu di Pulau Jawa adalah strategi yang digunakan kolonial Belanda untuk mengisi kembali pundi-pundi perbendaharaan kas mereka yang kosong akibat membiayai perang. Perang terbesar pada saat itu ialah Perang Jawa (1825-1830). Perang tersebut dimenangi oleh pemerintah kolonial Belanda dengan menyerahnya Pangeran Diponegoro. Dengan demikian, pemerintah kolonial tidak punya 'saingan' dalam memerintah Pulau Jawa. Namun, perang tersebut menyisakan kerugian yang cukup besar di pihak kolonial baik di Jawa maupun di negeri Belanda. Gubernur Jenderal Belanda pada saat itu ialah Johannes van den Bosch beride bagaimana mengembalikan kekayaan Pemerintah Belanda. Idenya adalah Pemerintah kolonial menerapkan sistem penanaman atau Cultuurstelsel.Sistem tersebut tidak pernah tertuang secara eksplisit, namun didasarkan pada prinsip umum sederhana. Daerah-daerah berutang pajak kepada pemerintah yang besarnya 40% dari taksiran hasil panen utama (biasanya beras). Pajak tersebut dibayarkan dalam uang tunai, namun sulit dalam pelaksanaannya karena sumber daya administrasi dan uang tidak tersedia. Bila pendapatan panen suatu daerah lebih besar daripada pajak yang harus ditanggungnya, maka ia memperoleh kelebihannya, sementara kalau pendapatan hasil panen kurang dari pajak yang seharusnya, maka daerah tersebut harus menggantinya dari sumber pendapatan lain. namun yang terjadi adalah: bagi desa harus ada nilai tukar antara pajak tanah yang didasarkan atas komoditi beras dan komoditi ekspor kepada pemerintah  Sistem ini mengharuskan masyarakat petani di daerah Jawa untuk menanam tanaman yang laku di pasar dunia seperti kopi, tebu, teh untuk diserahkan pada pemerintah kolonial sebagai pajak dalam bentuk natura (barang). Sebelum berkembangnya produksi gula dan nila, hanya kopi yang memiliki nilai ekonomis (ditanam di Priangan, Jawa Barat). Namun perkebunan nila tidak berhasil, sebagian besar perkebunan di Yogyakarta dan Surakarta berubah menjadi perkebunan gula. Selain itu, bagi penduduk yang tidak memiliki tanah, diharuskan membayar pajak dengan bekerja pada tanah milik pemerintah kolonial. Sistem Cultuurstelsel ini mulai diperkenalkan sejak tahun 1830 dan pada tahun 1840 diterapkan di seluruh Pulau Jawa. Pada prakteknya, keuntungan hanya dinikmati oleh pengusaha Cina serta pada administrator dan para pejabat pribumi yang sebagian besar tidak hanya menerima persentasi namun juga memiliki tanah jabatan (Ricklefs). Dampak-dampak cultuurstelsel ini tentu saja menguntungkan negeri Belanda. Dalam kurun waktu 1831-1877, telah dihasilkan 827juta gulden. Dampak sosial dan ekologi tentu saja rusak. Penderitaan orang-orang di Jawa meningkat, serta lingkungan yang tak stabil. peruntukan lahan untuk padi diubah jadi menanam tebu. Akibatnya timbul paceklik. Sementara itu perdagangan komoditi ekspor dari Jawa ke Eropa semakin didominasi swasta, karena itu banyak yang tertarik menjadi broker antara sang majikan, Belanda, dan petani.  Broker kopi ini, menurut Ricklefs (1993), bekerja sama dengan pegawai Belanda untuk memenuhi target ekspor kopi. Ketika cultuurstelsel mulai dihapuskan, kopi adalah komoditi yang dihapuskan terakhir kali. Keadaan SosialStruktur cultuustelsel berdampak pada tatanan kehidupan sosial. Kepala desa merupakan penghubung antara petani dan pejabat yang puncaknya adalah bupati. Bupati adalah bangsawan yang mengepalai kabupaten dan bertanggung jawab pada pemerintahan Belanda. Pejabat Belanda di suatu kabupaten ditugasi untuk mengurus penerimaan pajak dari masyarakat petani. Permasalahan korupsi yang muncul ialah, mereka dibayar sesuai dengan persentase penyerahan komoditi pertanian. Komoditi ekspor yang menjadi hak pemerintah dihargai terlalu rendah. Perdagangan komoditi ekspor di jalur swasta meningkat, dan terjadi pemerasan terhadap desa-desa. Korupsi merajalela dan pemerintah pusat di Batavia tidak mampu memantau hal tersebut ke seluruh daerah.Mulatatuli cukup detil menggambarkan apa saja ciri Havelaar. Kurang lebih satu halaman untuk menjelaskannya. Havelaar digambarkan sebagai seorang tubuhnya lampai, cepat gerak-geriknya. Ia cermnat dfan teratur, doitambah pula sangat sabatr tapi justru karena kecermatan, ketertiban dan kesabatan sukar baginya, karena jiwanya agal liart; ia lamban dan gatu-hati dalam pertimbangannya,meskipun tidak demikian nampaknya bagi orang yang mendedengarnya dengan cepat mengambil kesimpulan (h.47-48).Pengalaman hidup banyak memberi sumbangan pada kebijaksanaan. Havelaar mengunjungi banyak tempat. Di setiap tempat tersebut ia menuliskan pengalamannya, dan ini yang disebut oleh Multatuli: "Dan bahwa ia sesungguhnya memang banyak mengalami, bahwa ia tidak melintasi kehidupan tanpa menampung kesan-kesan yang banyak diberikan oleh kehidupan itu, hal itu dibuktikan oleh kecepatan pikirannya dan jiwanya yang mudah menerima (h.51)Max Havelaar diangkat jadi asisten residen daerah Banten Kidul atau Banten Slaetan, sebagaimana Lebak disebut oleh anak Bumiputera. Nyonya Slotering adalah janda asisten tesiden yang digantikan oleh Havelaar yang meninggal dua bulan sebelum Havelaar menggantikannya. Penugasan sementara menunggu penggantinya, ditugaskan kepada Verbrugge untuk mengerjakan pekerjaan asisten residen. Tiga PenceritaAda tiga narator dalam buku ini. Narator pertama adalah Droogstoppel, kedua adalah Stern, dan ketiga adalah Multatuli.  Perpindahan antarnarator dapat dibedakan pada konteks ceritanya. Droogstoppel bercerita tentang seputar perusahaan makelar kopi dan bursa perdagangan, Stern bercerita tentang Havelaar, sementara Multatuli muncul pada bagian penutup cerita. Pada pembuka, Droogstoppel memperkenalkan dirinya adalah sebagai makelar kopi yang tinggal di Lauriergracht No.37 (cat. sepenting apa sehingga alamat ini disebutkan berkali-kali). Droogstoppel tidak suka pada sastra, dari kalimatnya ia mempersoalkan sajak yang tidak pas (menurut logikanya):"saya tidak punya keberatan apa-apa terhadap sajak-sajak. Kalau orang hendak menjajarkan kata-kata, baiklah, tapi jangan katakan sesuatu yang tidak benar."Udara hitam pekat, dan sudah jam empat". Saya tidak keberatan, kalau udara memang pekat, dan waktu jam empat. Tapi kalau jam menunjuk jam tiga kurang lima belas, maka saya, yang tidak menjejerkan kata-kata dalam barisan, dapat mengatakan:"udara hitam dan waktu jam tiga kurang lima belas". Tapi sipenyair karena ada hitam pekat di baris pertama, terikat pada jam empat; sekiranya waktu jam lima, dua, satu, maka udara tidak boleh hitam pekat. Maka mulailah ia bertukang; atau udara harus dirobah, atau waktu harus diganti. Salah satu adalah dusta (h.4)Droogstoppel berkenalan dengan Syaalman. Syaalman memperkenalkan diri sebagai seorang penyair. Seperti yang diutarakan pada bab awal, Sebenarnya ia tidak suka padanya (terlebih karena Syaalman adalah seorang penyair/sastrawan). Syaalman datang kepada Droogstoppel dengan membawa bungkusan berisi naskah-naskah dan meminta bantuan Droogstoppel untuk membiayai ongkos cetaknya, sebab Syaalman tidak memiliki uang lagi dan ia harus menghidupi keluarganya. Droogstoppel tertarik pada isi bungkusan itu karena ada naskah yang bercerita tentang kopi:...mata saya tertarik pada berkas:" Laporan mengenai Perusahaan Kopi di Residensi Manado"...Saya menemukan karangan-karangan yang tidak saya mengerti seluruhnya, tapi yang sungguh memperlihatkan pengetahuan soal. Ada daftar-daftar, pemberitahuan-pemberitahuan perhitungan-perhitungan dengan angka-angka yang sama sekali tidak memakai sanjak, dan semuanya itu dikerjakan dengan ketelitian dan kehati-hatian. (h.23)   Akhirnya diputuskanlah bahwa Droogstoppel akan menulis sebuah buku berdasarkan naskah-naskah tersebut. Untuk tugas penulisan bab-bab buku tersebut diserahkan pada Stern, dan Droogstoppel memiliki hak menambah tulisan.Kisah Havelaar dibangun oleh Stern. Pemandangan keramaian pagi di jalan Pandeglang-Lebak, dituliskan oleh Stern mulai bab v, dengan demikian lokasi cerita berpindah dari Amsterdam ke Indonesia. Jadi cerita asisten residen Max Havelaar ini adalah cerita di dalam cerita. Ide awalnya ingin bercerita tentang kopi malah berubah menjadi menceritakan Max Havelaar. Dan memang, di Lebak sama sekali tidak ada perkebunan kopi.Pencerita terakhir adalah Multatuli sendiri. Ia masuk tiba-tiba menutup cerita dengan kalimat: Aku mau dibaca.  Multatuli mengakui bahwa karyanya tidak beraturan, pengarangnya mengejar sensasi, gayanya buruk, tidak nampak keahlian,...namun ia menyampaikan pesannya: tapi orang Jawa dianiaya!PertanyaanAda beberapa pertanyaan sekaligus kritik yang disampaikan oleh Multatuli, dan mungkin hal tersebut masih relevan sampai sekarang. Pertama adalah kritik terhadap sumpah jabatan. Ketika diangkat menjadi asisten residen, Havelaar diminta mengucapkan sumpah bahwa akan mematuhi dan menegakkan peraturan dan undang-undang yang ada. Dan yang terpenting: akan melindungi penduduk Bumiputera terhadap penindasan, penyiksaan, dan penganiayaan. Apakah demikian yang dilakukan pejabat pemerintahan sekarang yang membela kepentingan rakyat kecil di atas kedudukannya?Kedua, ia menegaskan apa panggilan bekerja. Ketika Max Havelaar memimpin rapat setelah ia dilantik maupun dalam surat-suratnya ia memberi pandangan apa peranan sebagai pekerja pemerintah :Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam. Dan jiwa manusia bukan tumbuh karena upah, tapi karena kerja yang membikin ia berhak untuk menerima upah.Dan apa jawab kita, kalau sesudah kita mati, ada suara menegur roh kita dan bertanya: "mengapa orang meratap di ladang-ladang, dan mengapa pemuda-pemuda menyembumyikan diri? Siapa yang mengambil panen dari lumbung dan menteret kerbau yang akan membahak ladang dari kandang? Apa yang telah klau lakukan dengan saudaramyu yang kuserahkan penjagaannya kepadamu? Mengapa si celaka itu bersedih hati dan mengutuk kesuburan istrinya? (h.69)Adakah yang lebih tinggi dari kebahagiaan? Maka bukankah kewajiban kita untuk membahagiakan manusia? Dan jika untuk itu diperlukan kerja, bolehkah kita melarang orang Jawa bekerja, pekerjaan yang yang diperlukan untuk kebahagiaan jiwanya, supaya nanti tidak akan dibakar dalam api neraka (h.88) ..supaya anda tinggalkan sikap takut-takut dan tampil dengan berani memperjhuangkan sesuatu kepentingan (h.145)dan ucapan ini ditujukan bukan terutama pada anda, tetapi kepada sekolah di mana anda dididik menjadi pegawai negeri Hindia (h.145). Hendaklah kata yang mulia itu terbukti dengan cara lain, dari sekedar gelar yang membosankan itu, gelar yang mengganggu arti kalimat.Ketiga, mengkritik pengangkatan gubernur jenderal. Multatuli mempersoalkan pengangkatan gubernur jenderal. Menurutnya, orang yang diangkat menjadi gubernur jenderal seharusnya selain cakap adalah seorang yang cukup punya pengalaman memimpin, mengingat permasalahan di Hindia sangat kompleks. Persoalan kesetiaan dan kejujuran menjadi poin penting. Dari cerita Multatuli ini juga dapat diketahui bahwa praktik korupsi sudah berlangsung dari sejak dulu. Gedung-gedung pemerintahan yang dibangun seringkali tidak berdasarkan anggaran biaya yang telah disusun, tetapi menggunakan tenaga kerja paksa yang tidak dibayar. Dan terutama Multatuli menyoroti perilaku para pemimpin Belanda di Hindia seperti buta mendadak: Orang yang baru beberapa waktu yang lalu tersembunyi di antara lingkungannya, tidak menonjol dalam pangkat atau kekuasaan, biasanya secara tiba-tiba, diangkat di atas orang banyak, yang jauh lebih besar jumlahnya dari lingkaran kecil yang dahulu membenamnya sebhingga tidak kelihatan oleh orangl dan saya kira tepatlah jika saya menyebut tempatnya yang tinggi itu membuat pemandangan orang berputar-putar....seperti kita menjadi buta apabila kita dengan cepat dipindahkan dari tempat yang gelap pekat ke tempat yang cerah. (h.149)Keempat, mengkritik gaya hidup saleh? Multatuli mengkritisi apakah benar pandangan orang Belanda, bahwa mereka adalah golongan Eropa terpilih yang mendapat berkat Tuhan, berbeda dengan Prancis yang terjadi bunuh-bunuhan. Sementara orang Belanda berdiam di negeri jauh, Orang Jawa yang digambarkan kafir malah menghasilkan kekayaan bagi mereka (h.159)Dari sudut pandang orang Belanda yang di negeri Belanda apakah kalimat: orang harus bekerja keras, dan siapa yang tidak mau, adalah miskin dan tetap tinggal miskin, dengan sendirinya (h.162) tetap relevan terlaksana di tanah jajahan?Film Max HavelaarKurang lebih seabad setelah novel ini terbit, pada tahun 1976 dibuat film Max Havelaar. Film ini disutradarai oleh Fons Rademakers. Film ini seharusnya merupakan co-production antara Fons Rademakers Productie BV (Amsterdam) dan PT Mondial Motion Pictures (Jakarta). Dari tulisan DA Peransi,yang diterbitkan si Harian Suara Pembaruan pada tahun 1987 menyatakan bahwa film tersebut seharusnya menggali kembali fakta sejarah yang ada dalam novel ini. DA Peransi berpendapat bahwa seharusnya ada keseimbangan dalam melihat tokoh Max Havelaar dan Residen Adipati Lebak di sini. Namun, konteks pada masa itu ialah di Belanda antiIndonesia masih begitu kencang. Alhasil film yang diproduksi tersebut menceritakan apa adanya seperti yang ada pada novel. Max Havelaar, putih hatinya yang ingin melakukan perubahan, Adipati Lebak yang hitam hatinya dan suka memeras rakyatnya, serta cerita Saijah dan Adinda yang menjadi 'bumbu' yang terselip pada keheroikan Max Havelaar.Vincent Canby, seorang kritikus film Amerika menulis tentang film ini di Harian New York Times pada tahun 1979 memberi catatan bahwa film ini memberi peran yang cukup besar terhadap Max Havelaar, kisah yang sederhana, namun masih suatu hal diceritakan berlebihan, seperti pengertian cantik yang dianggap berbeda anggapan dari orang kebanyakan. Selain itu, Canby menulis bahwa bila menggali tulisan Multatuli seperti "Marriage as Prostitution" atau "Slavery in Europe" (cat. dalam terjemahan HB Jassin tidak saya temukan) akan banyak mengungkap apa yang dimaksud oleh Multatuli.Tentang Edward Douwes Dekker sendiri dituliskan dengan apik oleh Drs Gerard Termorshuizen pada pembuka buku ini. Drs Gerard menulis bahwa buku ini adalah gambaran tentang Douwes Dekker. Pemandangan orang pada sosok Multatuli digambarkan sebagai berikut: Stern melihat sebagai idealis Max Havelaar, Droogstoppel menganggap seperti Syaalman yang tidak memiliki uang untuk membeli jas, dan Multatuli dirinya sendiri sebagai orang yang banyak menderita.Meski di tengah kontroversinya apakah seluruh kejadian di novel ini adalah fakta, namun buku ini telah berani melawan kolonialisme. Buku yang terbit akhir abad 19 ini juga menginspirasi Soekarno untuk melawan penjajahan. baru seabad kemudian, HB Jassin 'menarik'nya menjadi karya sastra lokal melalui terjemahannya. Buku ini seharusnya menjadi bacaan wajib di jenjang pendidikan dasar atau menengah. Dan bahkan, para pemimpin negeri ini perlu memaknai kembali sumpah jabatannya untuk membela rakyatnya alih-alih kepentingan golongan atau partainya.Mengingat dampak buku ini yang luar biasa, saya sangat menyarankan membaca buku ini. Saya melakukan penelusuran di internet, dan saya belum menemukan buku elektronik ini dalam Bahasa Indonesia. Karena itu, saya memindai buku terbitan 1977 ini dan mengunggahnya di sini.dan di sini  Jika membaca terjemahan HB Jassin ini membingungkan, bisa dicoba dengan membaca dalam bahasa Inggris. Ebooknya dapat diunduh di sini. Ketersediaan film ini di situs penyedia layanan video juga sangat minim. Mudah-mudahan setelah saya mendapatkan filmnya, akan saya unggah ke situs layanan video agar dapat berbagi tayang..Kejadian Lebak sudah jauh di belakang kita, tapi pertemuan dengan Havelaar tetap aktuil: individu yang mempunyai perasaan kemanusiaan berjuang melawan kepentingan diri kolektivitas. Terutama motif-motif manusia, titik tolak Multatuli, itulah yang menjadikan buku ini mengandung tenaga yang begitu hebat. (Drs Gerard Termorshuizen) Sumber:1] 2] 3] 4]Helvry 31082012

  • Edward
    2018-12-05 23:41

    Translator's IntroductionIntroduction--Max HavelaarNotes

  • Marc
    2018-12-08 00:39

    If you can read just one Dutch novel, please read this one. Although it's from the mid-19th Century, it still is an impressive indictment against colonial injustice. Highlights are the character of Droogstoppel, the speech to the leaders of Lebak, the little story about the Japanese stone-labourer and the longer story on Saïdjah en Adinda. The middle piece is a bit tiresome, with lots of elaborations, but I still love this novel.

  • Jeske
    2018-11-10 22:20

    Wow, i knew the Netherlands has a deeply shameful history when it comes to their colonies in the East Indies.. but to read it in so much detail.. :( I was deeply vexed and wanted to kick something towards the end of the book. I could so empathize with the anger of Max Havelaar. How could such injustice exist for so long?!Multatuli (Eduard Douwes Dekker) used an interesting way to tell the story, which i liked. From what i've learnt about him in this book, he seemed a person i would have loved to share a long walk and talk with.

  • Laura
    2018-12-05 23:17

    You may read online here.Thanks dear Wanda for providing this useful link.

  • Mgooskens
    2018-12-02 01:35

    De Adam en Eva van de moderne Nederlandse literatuur. Een boek met zo'n leeftijd wordt vaak achtervolgd door de notie dat de tekst wel waarde zal dragen, maar te verjaard is om als eigentijdse (lees: jonge) lezer van te genieten. Het is deze notie die Multatuli doorbreekt en het de status geeft als grondlegger van onze huidige vaderlandse literatuur. De gelaagdheid van het boek is zodanig opgebouwd dat het niet verstikkend werkt en laat je als lezer meeleven met de verschillende perspectieven. Vooral Droogstoppel, makelaar in koffie te Lauriergracht No. 37, is, zoals de naam als doet blijken, droog. Om meneer Droogstoppel kan zelfs anno nu nog moeiteloos gelachen worden.En dan natuurlijk het geschiedkundig gewicht dat aan het boek hangt. De vele zwarte bladzijden uit de Nederlandse geschiedenis die in dit boek zijn gedrukt maken het een imposant geheel. Een must-read voor geïnteresseerde in de Nederlands-Indië en kolonialiteit.

  • Sylvia
    2018-11-26 03:20

    This is what you called a must read for very Dutch student studying Dutch literature. Eduard Douwes Dekker is telling in this novel his life as an assistent-resident (Dutch official in former Dutch Indië). I have read this book several times as a student. Dekker's work was one of my specialism. His way of writing was new in the 19th century and the book was received with negative and positive critism. He accused the Dutch Goverment of abuse in their colony, which was used only to get as many profit of it as possible. In the 20th century the Dutch Government tried to prevent abuse and started to behave a little bit better and not to use the colony for profit only. But it was too late, after World War II, the Indonesian people wanted to be independent. Even then the Dutch Government was shocked and could believe that the Netherlands could survive without the Dutch East Indies. The colonization of the Dutch Indies is black page in the history of the Netherlands.

  • Mindy McAdams
    2018-11-20 00:21

    This was the last novel about Indonesia that I read before going there to live for 10 months. It’s not always easy for a 21st century reader to enjoy a 19th century novel, and this one is certainly not going to captivate everyone who undertakes it. I stuck with it even though at times it was annoying. At the end, I was glad to have read it.I wanted to read it because I have seen many references to this book in my reading about the colonial past of Indonesia. The subtitle, "Or the Coffee Auctions of a Dutch Trading Company," is probably the most misleading tagline ever given to a book, so don’t think for a minute that you will learn anything about coffee auctions here. The subtitle is not unreasonable — just unrepresentative of the story.I was surprised to find how much of the book is in the voice of a Dickensian coffee broker, Batavus Droogstoppel, who lives in Holland and has never ventured beyond its borders. But in the story-within-a-story format (familiar from other 19th century novels), Droogstoppel has an important part to play — and his stolid Dutch businessman’s attitudes are an artful counterpoint to the core story, which takes place in Java, in the impoverished state of Lebak.The endearing Max Havelaar is (one learns from the introduction to the Penguin Classics paperback) a proxy for Eduard Douwes Dekker (the author, writing under the pen name Multatuli), who was the Assistant Resident of Lebak in 1856. Max’s miserable experiences with the Regent, the Resident and the Governor General (the first a Javanese noble, and the other two Dutch colonial administrators) serve to illustrate most vividly the oppression of the majority of the people of Java under Dutch rule. It’s clear that one reason this book is so often mentioned in histories of the period is the level of detail about how the system worked — how the fabulous profits flowing out of the Indies and into Holland encouraged the colonial administrators to pretend they did not know how the local people were exploited to produce those profits.I thought often of slavery in North America while I was reading this book. The mechanics and interpersonal relationships of the system of slavery were different, but I think the selective blindness of the manufacturers of the North (profiting from the raw materials of the South) had a lot in common with the ignorance of the businessmen in Holland who profited from the raw materials of the Indies.Just as the publication of Uncle Tom s Cabin in 1851 changed Americans’ thinking about slavery, the publication of Max Havelaar changed what the Dutch thought about the people in the Indies. It could no longer be imagined that they were being compensated for the labor that yielded the coffee and sugar that made Holland rich — in fact they were starving to death, or being forced to leave their own lands to avoid starvation.

  • Czarny Pies
    2018-12-11 00:17

    Colonialism has had a bad press since the sixteenth century. The problem in such unanimity of opinion, few ever bother to explain exactly how colonials was it was bad. It this remarkable work which is not a true a novel is the expose of a failing colonial system. Using the pen name of Mutlatuli, Eduard Douwes Dekker, a former dutch colonial administrator explained in great deal how the Dutch colonial administration worked and why it was failing.Dekker identified three very fundamental problems:-1- the Dutch forced their colonies to produce crops for exports so as to generate generate revenues for the home country. Staple crops were neglected creating poverty and starvation in the colonies which had ample quantities of arable with which to feed their populations-2- the prices of export crops fluctuated wildly, which meant that the export crops could not be relied on to finance the development of an industrial infrastructure (electricity, public water supplies, ports, trains, etc.) Consequently the colonies failed to industrialize-3- finally taxation of the colonies was excessive significantly compounding the problems created the export oriented economy.Modern economic historians whether on the right or the left all agree with Multatuli that directing a colonial's agricultural resources into the production of export crops inevitably created poverty and prevented industrialization n the colonies. American industrialized in the north, the farmers produced for a local market. The South which produced cotton for export did not.Max Havelaar is well written although highly didactic novel about 19th century European materialism that has stood the test of time well. Most of the problems Dekker described still exist in various places through out our planet. Reading his book is great way to start to understand the factors preventing economic growth in the third world.After finishing this, you might want to read Iceland's Bell by Halldor Laxness which shows many of the problems described by Dekker for Dutch Indonesia also existing in Denmark's North Atlantic colony.

  • Odette Knappers
    2018-11-14 03:16

    If ou don't read some book in high-school, you never read the. My father owns a lovely old leather edition of this book, one he got from his parents when he decided to study Dutch. I loved that I read a beautiful, old edition like that. I remembered I brought this book with me on summer holiday to a lovely house in a little village in France. I always read a lot during summer holidays, and I've already decided to read this book for my last year of high-school. I figured, why not starting the year with one read book, It was very easy to combine the reading with more fun reads because I spent half of my holiday reading anyway :) I loved reading a classic like this, and the writing was better readable than expected.

  • Merel Donia
    2018-11-14 22:38

    Ik vond het erg lastig om door dit boek heen te komen, omdat ik soms moeite had met het taalgebruik. De verschillende verhaallijnen lopen door elkaar heen: om dit boek goed te begrijpen moet je dus echt focussen. Zware stof dus, maar daarvoor krijg je wel een prachtig verhaal terug.

  • Jane
    2018-12-08 00:33

    Read online: https://en.m.wikisource.org/wiki/Max_...Scathing indictment of colonialism. This is tempting me to reread.

  • Eva
    2018-12-06 02:26

    Not my cup of tea at all.

  • Sai
    2018-11-14 21:17

    This is the first real "Victorian era" literature book I've read. It does a golden job of elucidating what a modern day hero looks like. The world we live in is complex, filled with systems that no one person can ever understand, let alone transform or overthrow. Max Havelaar, the titular character is a spirited navigator of a complex world like ours, wherein the desired outcome is seldom easily reached. Along those lines, the modern world with its high bureaucratic seeming walls, which act as absurd confines for most ambitious thinkers can stifle one's spirit (like Catch 22, The Trial etc. for example). But Max Havelaar again shines in showing how a person might put their heart and soul to genuinely try to move people around them to make change within such a world.. and it does so without being preachy.It's an easy read, with a really interesting writing style of meta commentary that juxtaposes with the main plot line, and it never gets dull or boring. The character sketches were also superb, and there was was plenty to think about throughout the book.

  • Laura (bbliophile)
    2018-12-02 05:37

    Why do all of the books I read for school suck so much?

  • Jolien
    2018-11-18 02:19

    now that I passed my exam I WILL NEVER FINISH THIS GODDAMN BOOK.I despised this.

  • Michiyo 'jia' Fujiwara
    2018-12-04 03:23

    Woooowwww DAHSYAT!!!Kejutan di paragraf terakhir sekaligus penutup. Kalimat dari sang empunya sendiri; Maltatuli..“Buku ini isinya aneka ragam, tidak beraturan, pengarangnya mengejar sensasi, gayanya buruk! Tidak tampak keahliannya...tidak ada bakat..tidak ada metode..Cukuplah Stern yang baik, Aku Maltatuli..yang mengangkat pena. Aku menghidupkan anda.aku datangkan anda dari Hamburg. Aku ajarkan anda bahasa Belanda yang baik, dalam waktu yang singkat sekali..Aku suruh anda mencium Louise Rosemeijer yang ayahnya pedagang gula.Cukuplah Stern..anda boleh pulang.Si Syaalman itu dan isterinya.. stop! Hasil celaka nafsu mata duitan yang kotor dan kemunafikan yang menghujah Tuhan! Akulah yang menciptakan anda..anda membesar menjadi makhluk yang dahsyat dibawah penaku..Aku jijik dengan bikinanku sendiri.Syaalman..terbenamlah dalam kopi dan pergilah.Buku ini adalah suatu pendahuluan..Pertolongan dan bantuan, dengan jalan yang sah, dimana mungkin; -- dengan kekerasan atas jalan yang sah, dimana perlu.Mudah-mudahan hal itu tidaklah perlu..1860..Terbit “Max Havelaar”..salah satu karya sastra kelas dunia, berisikan gugatan terbuka secara ‘tajam’ pada pemerintal kolonial Belanda..atas ketidakadilan dan penindasan pada Bumi Putera berdasarkan pengalaman pribadi si penulis itu sendiri, Eduard Douwes Dekker alias Maltatuli..yang pernah menjadi asisten Regent (Bupati) Lebak. Sangat kental sekali dengan budaya patriarki Jawa..menyorot kesewenangan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda di Hindia Belanda masa itu (tanam paksa) , dan kesewenangan Bupati dan kepala-kepala rendahan (Demang) pada penduduk yang mereka pimpin sendiri.“Panggilan manusia ialah mewujud sebagai manusia”Maltatuli (=aku yang telah banyak menderita)2012..Kabupaten Lebak, menurut data Kementrian Daerah Tertinggal ..Lebak ‘masih’ masuk sebagai wilayah dengan kategori daerah tertinggal. Dan jika tidak ketik kata ‘Lebak’ di mesin pencari otomatis..yang keluar adalah gambar-gambar ini;Jika secara ajaib Maltatuli bangkit lagi dari kuburnya dan melihat Lebak saat ini..dan membandingkannya dengan apa yang ia lihat dahulu. Apa yang akan ia katakan??

  • Kristel
    2018-11-14 03:31

    The story of Max Havelaar is a social commentary on colonialism as well as a political statement of the abuse of government and the ineffectiveness of Christianity without charity. The story is set in 1853 or there abouts in Indonesia (Java) at that time and is the story of why change is almost impossible in systems that are as large as governments and even a good person is basically unable to make any good change. This is a 4 star read for me. I hated the poor condition of my kindle edition and having to constantly correct the typos and other errors in my head to make any sense out of some of the sentences but I fell for this social commentary of the abuse of people by colonialism but also by their own people. The book was a little difficult. I believe it is what is called a frame story. A story within a story. It seems like we had the story that was being told by Mr Drystubble (what a social commentary of whited sepulcher), Stern's story taken from Max Havelaar's (shawlman's notes) and then the story written by Multatuli as the author of the whole social commentary. Loved the love story, made me want to cry. Cry for the water buffalo and cry for the poor boy. That alone made this a 4 star story for me. I will never look at a water buffalo in the same way again.

  • Devania Annesya
    2018-11-27 02:19

    ah, buku ini... sebenarnya bintang 2 untuk gaya penceritaannya yang berbelit-belit dan menggunakan multilayer pov. banyak kisah campur aduk ala gado gado sehingga sebagai fiksi buku ini susah dinikmati. namun saya beri bintang 5 untuk keberanian eduard douwes dekker. keterbelit-belitan gaya penceritaan ini seperti ketakutan dalam menyatakan kebenaran. namun di saat yang sama saya juga merasakan keberanian nurani sang penulis. Mr Dekker seolah ingin menyembunyikan kenyataan dalam kedok fiksi namun ia juga ingin berteriak dengan lantang bahwa apa yang ia ceritakan adalah sebuah kenyataan. Mr Dekker ingin didengar, ia ingin semua orang mengetahui kenyataan sebenarnya dari praktik kolonialisme di indonesia, tapi ia tidak berdaya dan merasa disia-siakan. dan buku ini, MAX HAVELAAR, adalah bentuk keberanian terbesar beliau yang tak akan lekang dimakan zaman. :")

  • Jacob Boorsma
    2018-11-30 05:31

    I got one word to describe this book: OUTDATED.I mean, the book has some nice elements and other things you would like to see in a book, but in this form, the information just doesn't appeal because the book is so outdated.Also, Multatuli is far too ambitious for a man of his writing skills, with a far too big ego, and it annoys me.

  • Liliyah
    2018-11-28 05:24

    tidak semua org Belanda yang hidup tiga ratus tahun lalu di negeri ini adalah penjajah. Perjuangan Multatuli adalah anomali. Sebagai seorang asisten residen dia justru memperjuangkan kaum pribumi-buruh tani di Lebak Banten. tetapi hingga kini, masih saja buruh-tani terjajah. Kali ini oleh bangsanya sendiri. Lebih miris. NB : Bos gw mpe bikin naskah drama-teaternya...hiks, sedih bacanya.

  • Quentin Zero
    2018-11-11 02:12

    Boring, outdated, the writer doesn't even think this is a good book. Please

  • Julia
    2018-11-14 04:15

    In the form of memoires of fictional character Max Havelaar the author shares his personal memoirs of the life of one of the civil servants in the Dutch colony in Indonesia. The book describes the way the colonial economy had functioned these days: colonial company had been buying goods from locals for outrageously cut-rate prices, then shipped and sold to Europe and the USA. For example, when we say “English tea”, obviously we mean Indian tea, which colonial British companies purchased the very same way from locals and shipped to the UK and Europe under the label of English tea. The same thing goes with coffee, rubber and other commodities in the case of Netherlands colonies in Indonesia. As a civil servant of Dutch administration in the colony, the author had the chance to fully perceive the arduous life of simple peasants who grew and then collected and processed coffee beans. The author often mentions pieces of injustice and even criminal abuse towards locals from the colonial authorities and local big shots. The big story of any country is made of millions of small stories of usual people, doing their daily shores, solving their everyday issues, this is, as I see it, the main point of the story of “Max Havelaar…”. The author chose a peculiar technique, thus speaking on behalf of the principal characters and the writer himself, emerging from time to time. I especially admire that when speaking from the part of, for instance, the hard boiled and down-to-earth tradesman, the author, just like a professional actor, used the whole set of means of expression, such as specific rhythm of text attributable to this type of businessmen, specific terms and the way of phrasal construction. All of this gave the feeling that we met a real trader to the very roots of his vocation.I am giving it four stars because it is a notable memorial to the colonial period, and it inspires to search for more sources to better understand people and history of that time in order to get a better perception on what is going on today, and due to the topic it would be interesting perhaps mostly to those who is keen to know more on the history of colonialism.It took me almost a year to get this book, and it is certainly worth it.

  • Nisa Rahmah
    2018-11-13 05:38

    Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya.Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.—John F. KennedyKisah bermula dari seorang makelar kopi yang tidak menyukai sastra bernama Droogstoppel. Sebagai orang yang berkecimpung dalam bursa selama bertahun-tahun, baginya, karya sastra serupa novel atau puisi hanyalah kata-kata yang indah, jauh dari kebenaran. Misalnya:"Jam berdentang empat kaliDan sudah tidak hujan lagi"Komentarnya: Aku tidak akan mengucapkan sesuatu pun untuk menentang perkataan itu, seandainya saat itu memang pukul empat dan hujan memang sudah berhenti. Namun, seandainya saat itu pukul tiga kurang sepertempat, aku—yang tidak merangkai kata-kata dalam bentuk puisi—bisa mengatakan, "Pukul tiga kurang seperempat, dan hujan sudah berhenti." Namun si pembuat rima, karena sudah tidak hujan "lagi", terpaksa mengatakan "empat kali". Entah waktu atau cuacanya yang harus diubah dan hasilnya adalah kebohongan (hal 21). Begitulah, sebagai gambaran betapa seorang Droogstoppel sang makelar kopi, dengan wataknya yang lebih menyukai kelogisan alih-alih sesuatu yang menggunakan rima namun menyalahi kebenaran.Suatu hari Droogstoppel bertemu dengan seorang teman lama, bersyal kotak-kotak yang disebut Sjaalman. Lelaki itu meminta kepada Droogstoppel untuk membantunya menerbitkan sebuah buku, karena Sjaalman membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya, dan dengan bakat penyair yang dia punya, pria bersyal itu memutuskan untuk membuat cerita, dan meminta bantuan teman lamanya itu untuk mendanai penerbitannya. Droogstoppel menolak, namun Sjaalman pantang menyerah. Paket naskahnya itu dikirimkan ke rumah Droogstoppel yang kemudian memancing penasaran.Tuan Stern muda, seorang yang baru saja direkrutnya sebagai pegawai, menyanggupi untuk membantu Droogstoppel dalam menggubah naskah milik Sjaalman menjadi sebuah buku yang menceritakan tentang Max Haveelar, namun buku tersebut harus berjudul "Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda."Sampai di sini, buku ini mengalami perubahan sudut pandang. Seperti yang dikatakan sebelumnya, kisah mengenai Max Havelaar. Di awal cerita, pembaca akan dikejutkan dengan perbedaan setting di sini. Jelasnya, karena latar cerita ini adalah tahun 1850-an. Ini juga memperkaya pengetahuan kita tentang situasi saat itu, bagaimana perjuangan menempuh perjalanan, dan bagaimana kondisi geografis setting tempat, yakni Distrik Lebak, tempat Havelaar menjadi Asisten Residen.Perlu dijelaskan di sini tentang sistem pemerintahan di sana. Gubernur Jendral dalam usahanya dibantu oleh sebuah dewan. Untuk mengepalai setiap provinsi, dikepalai oleh seorang residen. Karesidenan dibagi menjadi tiga, empat, atau lima departemen atau kabupaten yang dikepalai oleh asisten residen. Di setiap departemen, asisten residen dibantu oleh seorang pejabat pribumi berkedudukan tinggi yang bergelar "bupati". Walaupun hubungannya dengan pemerintah dan departemennya adalah sebagai pejabat bayaran; selalu berasal dari golongan bangsawan tinggi di daerahnya. Politik Belanda memanfaatkan pengaruh feodal kuno pangeran-pangeran. Karena dengan mengangkat mereka sebagai pejabat bayaran kerajaan, tercipta semacam hierarki yang dikepalai oleh pemerintah Belanda dan diwakili oleh gubernur jenderal (hal 80-82). Hubungan antara pihak Belanda dan pribumi dapat dijelaskan sebagai berikut: "Pejabat Eropa harus memperlakukan pejabat pribumi yang membantunya sebagai adik". Namun, dia tidak boleh lupa kalau adiknya ini sangat dicintai, atau ditakuti, oleh orangtuanya. Dan, seandainya terjadi perselisihan, senioritasnya sendiri akan langsung dianggap sebagai alasan untuk menyalahkannya karena kurang memanjakan adiknya (hal 86).Ada perbedaan kedudukan di sini dari sisi penduduk pribumi. Yakni para pembesar—para bupati beserta petingginya—dan rakyat jelata. Untuk kisah bagaimana rakyat jelata ini, nanti akan dijelaskan kemudian. Sekarang, ada hal yang perlu dipaparkan di sini, tentang petinggi rakyat yang memiliki kedudukan. Perlu diketahui bahwa kekayaan bupati jauh lebih besar jika dibandingkan para pejabat Eropa; dan ini memang sudah sewajarnya. Biaya operasional seorang bupati memang cukup banyak. Membiayai keluarga besar beserta rombongannya. Orang Eropa hidup seperti warga negara, bupati hidup sebagai pangeran.Havelaar, dalam pekerjaannya di tempat baru dibantu oleh seorang pengawas Verbrugge, seorang lelaki baik, sederhana, komunikatif. Ada pula Letnan Duclari, komandan garnisun kecil di Rangkas Bitung. Sekarang kita berbicara tentang si tokoh utama, Max Havelaar, Asisten Residen Lebak. Seorang lelaki berusia tiga puluh lima tahun. Dia penuh kontradiksi; setajam silet, berhati selembut anak perempuan, dan selalu menjadi yang pertama merasakan luka akibat kata-kata pahitnya sendiri; dan dia lebih menderita dari mereka yang dilukainya. Memahami kata-kata yang sulit, namun seringkali tidak memahami hal-hal yang paling sederhana. Jujur, dermawan, hidup seadanya untuk ukuran seorang asisten residen karena kedermawanannya dalam membantu orang lain. Havelaar memiliki seorang istri, Tine, dan seorang anak yang diberi nama Max. Sebagai seorang istri, Tine bisa dibilang amat mengetahui suaminya, rela menanggung akibat dari idealisme Havelaar. Hidup sederhana dan berhemat, karena kebiasaan suaminya yang terlalu dermawan.Havelaar memang bisa dibilang tidak seperti penjajah yang selama ini ada dalam benak kita. Pada awalnya, saya secara jujur mengatakan bahwa saya agak takut, apakah ini sebagai upaya propaganda, menghalusan sesuatu, mengubah paradigma kita, yah begitulah. Namun ternyata yang perlu dipahami di sini adalah, bahwa kita janganlah menilai sesuatu itu hanyalah dari sisi hitam dan putih. Hitam untuk penjajah Belanda, lantas putih untuk rakyat Indonesia. Namun ternyata, ini memang harus diakui, paradigma kita yang keliru itu harus diluruskan. Bahwa tidak semua orang Belanda itu adalah seorang penjajah [penjajah (n): orang yg terlalu menguasai (menindas dsb) orang lain (bawahan dsb); KBBI] semuanya jahat. Havelaar di sini, justru menggunakan nalurinya untuk menentang penjajahan yang sebenarnya terjadi. Dan bagi pribumi yang ternyata memanfaatkan situasi demi mengenyangkan perut sendiri, itu pulalah yang pantas disebut penjajah.Seperti yang sedikit disinggung di atas, Belanda menerapkan politiknya menjajah dengan mendekati pejabat-pejabat tinggi pribumi, yang mana dengan itu bisa memperkuat kedudukannya untuk mengeruk keuntungan hasil bumi sebanyak-banyaknya dari rakyat. Ibarat kata, memberi posisi serta mengenyangkan perut orang-orang berpengaruh, demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi. Terlebih lagi, misi lain yang dibawa oleh para penjajah ini, yakni menyebarkan agamanya di tempat jajahan.Masih banyak sekali yang ingin dieksplor di sini, terlebih lagi bagaimana menggambarkan sosok Havelaar, yang lain dari yang lain. Seperti bagaimana kisahnya di Karesidenan Padang (mungkin nanti akan dibahas di tumblr kalau sempat), itu lebih membuat Havelaar berbeda.Nanti dilanjutkan ya, sudah lebih dari tiga jam menulis ini dan belum selesai juga. Uhm, pardon me.

  • Mirella Ducasteele
    2018-11-25 05:30

    Ontzettend vernieuwend voor zijn tijd: zijn afkeer van religie, kolonialisme, nepotisme, ...Ongelooflijk gevariëerde schrijfstijl.Blijft saai om wille van het onderwerp: de beschrijving van de bestuurlijke macht op Java, maar toch verrassend en zeker het lezen waard.Ik was vergeten dat de Japanse steenhouwer hieruit kwam.

  • Lotte
    2018-11-11 23:24

    Ik snapte er echt geen hol van :)